Warga Belajar PLS Menerima TIK Why Not?
[ Keberterimaan warga belajar PLS terhadap penggunaan TIK dalam program pembelajaran PLS]
Fauzana Elvira 19005012
Jika kita menganalogikan pendidikan dengan sebuah gedung lantai empat, maka dilantai pertama adalah PAUD, lantai kedua adalah SD, lantai ketiga SMP dan lantai keempat adalah SMA, lantas barangkali pembaca bertanya-tanya PLS dimana?. Jawabannya sangat sederhana, PLS berada di luar gedung tersebut, jika SD, SMP dan SMP dispesifikkan dengan berbagai kriteria baik dari pendidik maupun peserta didiknya maka PLS lebih bersifat fleksibel dan dinamis, siapapun berhak mendapat pendidikan, namun tak semua kelas memiliki empat dinding dan tak semua peserta didik mampu berseragam sekolah itulah barangkali kalimat yang perlu dipegang oleh setiap lulusan PLS.
Dari uraian di atas dapat kita bayangkan betapa beragamnya warga belajar PLS dan betapa besarnya potensi pasar PLS dikancah pendidikan jika mampu beradaptasi dan berinovasi memenuhi kebutuhan pasar
Warga PLS yang merupakan setiap individu yang sedang menjalankan program-program PLS baik itu penyelenggara, fasilitator, tutor, peserta didik dan sebutan lainnya tentu harus siap beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Di era revolusi industri 4.0 ini kita selaki warga belajar PLS tentu seharusnya sudah tidak lagi berada di fase beradaptasi namun beranjak naik ke fase berinovasi dalam perimaan TIK dalam program PLS.
Keadaaan dunia yang semakin kalut ulah pandemi Covid-19 ini pun tentu saja menyimpan sejuta potensi bagi warga belajar PLS apabila mereka mampu mengoptimalkan pemanfaatan TIK, namun apa boleh dikata, faktanya masih banyak warga belajar PLS yang gagap teknologi, sehingga berdampak pada ketidak optimalan pemanfaatan TIK dalam program PLS.
Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya lembaga-lembaga penyelenggara program PLS seperti PKBM yang mundur teratur mengibarkan bendera putih karena tidak mampu beradaptasi dengan teknologi, hal ini tentu bukan hanya kesalahan dari pihak penyelenggara saja melainkan menyiratkan bahwa mininnya kesiapan warga belajar PLS menggunakan TIK dalam program PLS, terutama untuk waraga belajar yang berusia 40 tahun ke atas penyebabnya tentu saja beragam, mulai dari sarana dan prasarana yang tidak memadai, hingga kurangnya pelatihan dan perhatian dari pihak berwenangpun memperparah keadaan ini.
Namun di sisi lain kita juga bisa melihat banyak pihak yang mampu bekerja cerdas menjadikan pandemi dan transformasi dunia ini sebagai potensi, hal ini bisa kita lihat dengan merebaknya bimbingan belajar berbasis online, pelatihan berbasis online dan program-program PLS yang sudah berinovasi menggunakan TIK
Warga belajar PLS tidak hanya dapat menjadikan TIK sebagai media platfrom pembelajaran, mencari referensi atau sekedar diksusi online saja namun lebih dari itu, pemanfaatan TIK dapat menjadi sebuah gebrakan yang mempertajam taji eksistensi PLS di mata masyarakat.
Untuk mengakhiri tulisan kali ini, penulis ingin mengingatkan kepada para pembaca bahwa benih terbaik sebuah peradaban bukanlah benih yang mampu bertahan melewati berbagai musim saja, melainkan benih yang mampu istiqomah menebar kebaikan, kita semua adalah cahaya, jika belum mampu menerangi sekitar setidaknya terangilah diri sendiri dengan memaksimalkan segala potensi
Sekian dari penulis,
Terimakasih atas kunjungannya ke blog ini.
#SemangatBerkarya
#PLSJaya
#PendidikanUntukSemua
--------------------------‐-----------------------------
Daftar Pustaka
https://id.m.wikipedia.org › wiki › T...Teknologi informasi komunikasi - Wikipedia (diakses pada 18 Agustus 2021, pukul 16.00 wib)
https://teknologipendidikan.org › te...TEKNOLOGI PADA MEDIA PEMBELAJARAN (diakses pada tanggal 18 Agustus 2021, pukul 16.15 wib)
-----------------------------‐-----------------------------
Sosial media
📍Ig :
fauzanaelvira http://Instagram.com/fauzanaelvira
Komentar
Posting Komentar